Dengan tidak membalas, Yusuf menyediakan dirinya sebagai saluran kasih dan kemurahan Allah. Dengan tidak membalas, Yusuf menjadi bukti nyata bagi saudara-saudaranya bahwa Tuhan telah mengampuni mereka.
Mari kita tengok kehidupan keluarga kita. Tidak ada keluarga tanpa luka. Ketika kita terluka, maka pilihan yang ada: kita membalas, kita puas. Akan tetapi, relasi kita berujung pada pertikaian tanpa henti. Tidak ada masa depan tanpa pengampunan dan penerimaan. Kita takut menerima kembali, takut terluka lagi. Akibatnya, relasi kita menjadi penuh kecemasan dan ketakutan. Kita ingin mengendalikan pasangan, anak, atau orangtua kita. Kita gelisah dalam ketakutan. Kita mengatur jarak. Relasi kita menjadi dingin dan membeku.