Ternyata status dan kedudukan sebagai nabi tidak membuatnya lebih tahu dari manusia lainnya. Itulah sebabnya Habakuk bertanya dan bahkan pertanyaannya bernada gugatan. Apakah Habakuk kurang “rohani” dan kurang beriman?
Pertanyaan dan bahkan gugatan Habakuk adalah sebuah bukti sedekat apapun kita dengan Tuhan, hidup beriman tak akan lepas dari pertanyaan atau ketidakmengertian. Hal ini bukan tanda kurang “rohani” namun bagian dari keterbatasan manusia. Tuhan tentu saja Maha Tahu, namun manusia banyak tidak tahu. Di dalam ketidaktahuan kita, janganlah menjadi manusia yang menjadi sok tahu.
Beriman menuntut keberanian hidup dengan pertanyaan.
Ada saat di mana kita bertanya-tanya kepada Tuhan. Dan dalam satu dua cara Tuhan menjawab kita. Kita bersyukur. Namun, ada saatnya kita harus hidup dengan tanda tanya: Mengapa, Tuhan? Bagaimana caranya Tuhan? Tidak banyak orang tahan hidup dengan pertanyaan. Akibatnya, Tuhan ditinggalkan dan mencari kepastian yang lain yang lebih dapat dipegang dan kasatmata seperti orang pintar, benda-benda jimat tertentu, pergi ke gunung tertentu. Hal-hal yang membuat Tuhan berduka dan justru menghasilkan kebingungan yang lebih besar lagi dengan pelbagai jawaban yang muncul.