Mari kita dengarkan serentetan pertanyaan ini:
“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong?”
“Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman?”
Siapakah yang melontarkan pertanyaan dan gugatan ini kepada Tuhan? Habakuk! Siapakah Habakuk itu? Seorang nabi, penyambung lidah Allah kepada umat-Nya. Bayangkan seorang nabi bertanya dan menggugat Allah di dalam ketidakmengertiannya. Ia tidak dapat mengerti mengapa aniaya dan kekerasan ada di depan matanya, perbantahan dan pertikaian terjadi. Hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan sebab orang fasik mengepung orang benar. Itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. Jika seorang nabi saja tidak paham tentang apa yang ada di depan matanya, bagaimana ia sanggup menjelaskan hal ini kepada pendengarnya?