Badai itu laksana pukulan tinju yang mengenai rahang atau ulu hati kita, yang bisa membuat kita KO. Hal itu menunjukkan bahwa kita tidak bisa berdiri tegak menghadapi badai dengan kekuatan diri sendiri. Kita membutuhkan kekuataan yang mampu menopang dan menolong. Kekuatan itu berasal dari luar diri kita yang memenuhi hidup kita. Seperti balon tinju mampu tetap berdiri sekalipun dipukul karena diisi air di bagian bawahnya dan dimasuki udara yang memenuhinya. Demikian juga hidup kita harus dialiri dengan “Air Hidup” seperti perempuan Samaria (Yoh. 4:14) dan dihembusi dengan “Nafas Hidup” seperti para murid-Nya (Yoh. 20:22). Jadi, bukan diri kita yang membuat kita mampu menghadapi badai, tetapi Allah yang kita kenal di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Beriman di Tengah Badai
June 30, 2021