Khotbah Perjanjian Lama

Carilah Uang, namun Jangan Menjadi Hamba Uang

Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu saya membeli sebuah komputer seharga satu juta rupiah. Harga ini terbilang murah karena saya membeli komputer kepunyaan saudara saya sendiri. Selama ini komputer itu berfungsi dengan baik dan saya rasakan cukup karena pekerjaan saya 90 persen berhubungan dengan ketik-mengetik sehingga tidak memerlukan komputer yang terlalu canggih. Namun, setelah saya dan teman-teman pergi ke sebuah pameran komputer dan melihat berbagai jenis komputer yang baru berikut perkembangan-perkembangannya yang paling modern; tiba-tiba saya merasa kurang nyaman. Apalagi ketika teman saya berkata, “Komputermu masih yang dulu? Memorinya berapa sih? Cuma 64, kan? Sekarang zamannya 512. Hard-disk-nya berapa giga?” Semakin banyak pertanyaannya, semakin tidak nyaman saya. Setelah melihat-lihat dan berkeliling-keliling, saya merasa punya kebutuhan yang baru. Saya merasa perlu membeli komputer baru. Akan tetapi, ketika malam tiba, saya mempunyai kesempatan untuk merenung dan bersikap jujur terhadap diri sendiri. Saya melihat kembali dan mempertimbangkan, sungguhkah saya membutuhkan komputer baru? Untuk sekadar memenuhi kebutuhan saya dalam ketik-mengetik, komputer saya yang lama sudah cukup. Namun, untuk memuaskan ego saya, pasti komputer itu terasa kurang memadai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *