Khotbah Perjanjian Baru

Kemuliaan Hidup Anak-anak Allah

Sebagai kesimpulan, saya ingin memberikan suatu gambaran. Saudara tahu ini apa? (Menunjukkan celengan tanah). Iya, ini celengan. Kehidupan orang percaya itu persis seperti celengan. Celengan ini untuk apa, Saudara?  Untuk nabung. Nah, Saudara bisa membayangkan celengan ini isinya apa? Celengan ini ada isinya. Isinya apa? Uang. Apakah celengan itu akan dibiarkan terus waktu sudah penuh isinya? Ndak to? Pasti suatu ketika Saudara akan mengambil uangnya. Betul? Saya mau tanya, bagaimana Saudara mengeluarkan uang yang ada dalam celengan? Mungkin akan Saudara kocok-kocok. Mungkin Saudara ambil lidi. Dicutik-cutik. Kalau sudah dikocok-kocok atau dicutik-cutik ndak bisa keluar juga, bagaimana agar Saudara bisa mengambil uangnya? Dipecah! (Celengen dibanting ke dalam kotak kardus yang sudah disiapkan di depan mimbar).

Saya membayangkan bahwa di dalam kehidupan setiap anak-anak Tuhan, Allah sudah menaruh kemuliaan; sama seperti kita menaruh uang di dalam celengan.

Allah menaruh kemuliaan dalam celengan hidup kita ini bukan hanya untuk dibiarkan. Suatu saat harus dikeluarkan. Dari situ kita bisa melihat sesungguhnya berapa sih kemuliaan yang ditaruh di dalam diri kita ini. Apakah cepek tok? Ndak Saudara. Atau mungkin nggo ceng? Lima ribu. Ooo ternyata ndak. Lima puluh ribu? Ooo lebih banyak lagi. Nah, cara Tuhan mengeluarkan kemuliaan di dalam hidup Saudara juga sama seperti saya mengeluarkan uang dari dalam celengan tadi. Nek wis dikocok-kocok ndak isa metudicutik-cutik ndak isa metu… Saudara harus siap dikepruk sama Tuhan. Siap-siap dibanting. Siap-siap dipecah. Begitu cara Tuhan mengeluarkan kemuliaan dalam diri Saudara.

1 thought on “Kemuliaan Hidup Anak-anak Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *