Merasa sangat kedinginan dengan cuaca ketika itu, Pendeta Wurmbrand mengambil selimutnya. Dia balutkan erat-erat satu-satunya selimut itu di tubuhnya. Tetapi, ketika Pendeta Wurmbrand sedang menikmati hangatnya selimut, dia seolah-olah dihadapkan oleh Tuhan dengan seseorang yang berada di pojok kamar penjara. Orang itu penuh dengan luka karena baru saja disiksa. Dia tampak menggigil tidak hanya karena luka-lukanya, tetapi juga karena tak bisa menahan dinginnya cuaca ketika itu. Pendeta Wurmbrand sesaat membalutkan semakin erat selimut itu di tubuhnya.
Kemurahan sebagai Kebiasaan Hidup
April 13, 2019