Saya mempercayakan diri kepada seorang pilot pesawat tatkala bepergian ke kota lain dengan pesawat. Saya percaya bahwa ia sangat kompeten dan berpengalaman. Saya mempercayakan hidup saya ke dalam tangan pilot itu yang akan membawa saya selamat tiba di tempat tujuan, kemudian saya mengikatkan sabuk pengaman dan duduk dengan santai menikmati makanan yang dibagikan sang pramugari.
Demikian pula yang terjadi dengan saya yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menyerahkan nyawa-Nya untuk saya sebagai korban substitusi di atas salib. Saya memberikan persetujuan intelektual atas kebenaran ini, tetapi saya melangkah lebih jauh dari persetujuan intelektual ini untuk menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi saya dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada Dia di sepanjang sisa hidup saya dan dalam kekekalan.