Saya tahu tawaran itu baik untuk saya. Namun, 3 x 2,5 jam per minggu “disiksa” dengan segala macam latihan, saya tentu tidak rela. Saya pun menolaknya dengan halus, ”Saya pikir-pikir dulu, deh.” Nah, oleh karena berpikir-pikir itulah, sekarang ini saya masih cukup gemuk seperti sekarang ini. Cita-cita untuk punya tubuh yang kekar dan otot yang kuat ada, tetapi saya tidak mau menjalani prosesnya. Kira-kira seperti itu jugalah kondisi iman kita. Kita ingin iman yang kuat, tetapi kita tidak mau menjalani proses pembentukannya. Kita ingin mempunyai iman yang kuat agar mampu menahan beratnya beban kehidupan. Akan tetapi, ketika Allah merencanakan di dalam program-Nya bahwa untuk itu kita harus melewati saat-saat penuh guncangan dan pergumulan, kita menolak. Kita langsung mundur dan berkata, “Ya, itu baik; tetapi ndak usahlah!”
Ketika Iman Berbenturan dengan Kenyataan
May 19, 2017
Iman yang hakikat takkan lekang diterpa kenyataan pahit maupun manis …
Menurut admin sendiri apakah keimanan tersebut dapat berubah-berubah sesuai keadaan dan kenyataan tertentu??
Mohon ulasannya min …
Makasi salam kenal …