Saudara-saudara yang dikasihi Kristus… Yesaya mati martir di bawah pemerintahan Manasye, salah satu raja terjahat dalam Perjanjian Lama. Menurut tradisi itu, Yesaya bersembunyi dalam sebuah pohon yang berlubang untuk melarikan diri dari Manasye. Para prajurit raja, yang mengetahui bahwa Yesaya ada di dalam pohon, menggergaji pohon itu sampai rubuh. Dengan demikian, Yesaya pun ikut digergaji. Sejumlah ahli merasa bahwa Yesaya termasuk dalam acuan di kitab Ibrani tentang para pahlawan iman yang digergaji (Ibr. 11:37). Ini menunjukkan bahwa keberhargaan kita di mata Tuhan bukan hanya semasa kita hidup, tetapi Allah juga menghargai kematian kita. Memang benar apa yang dikatakan sang Pemazmur, “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mzm. 116:15). Wow, itu sungguh menenangkan hati. Bukankah ini saatnya kita memuji dan memuliakan nama-Nya? Mari kita pujikan “Ku Berharga di Mata-Mu.”
Kita Berharga di Mata Tuhan
November 1, 2021