Murid-murid ini berpendidikan minim dan memiliki sedikit pengetahuan tentang hal yang rohani. Setiap kali sang Guru mulai mengajar mereka, bahkan ketika Dia mengajar mereka dengan memakai perumpamaan, kita mengetahui dengan jelas bahwa mereka tetap kurang dapat memahami makna pengajaran Yesus. Mereka sering menunjukkan sifat egois dan tidak ramah. Tatkala khalayak ramai yang berjalan menelusuri sepanjang Danau Galilea datang mendengarkan Yesus, lalu mereka menjadi letih dan lapar, murid-murid ini justru berpikir untuk menyuruh mereka pergi untuk membeli makanan di desa-desa” (Matius 14:15). Tatkala sejumlah anak-anak dibawa ke hadapan Yesus supaya Dia meletakkan tangan-Nya dan mendoakan mereka, para murid menghardik mereka (Matius 19:13). Mereka berpikir bahwa mereka cukup murah hati dengan mengampuni seseorang “sampai tujuh kali” (18:21). Tetapi pada malam tatkala Yesus dikhianati, pada saat Dia sedang bergumul di Taman Getsemani, Petrus, Yakobus, dan Yohanes tidak sanggup berjaga-jaga bersama dengan Dia (26:40,45). Para murid begitu egois, lemah, dan takut. Namun Yesus memilih mereka untuk menjadi murid-murid-Nya, bahkan menjadikan mereka sebagai “tim inti” dari ketiga murid terdekat-Nya. Mereka adalah “bahan” mentah yang akan Dia ubah menjadi alat yang berguna.
Menjadi Penjala Manusia
August 2, 2017