Yang kedua, Saudara… ketika mendengarkan khotbah Tuhan Yesus, orang banyak itu menafsirkannya secara literal (harafiah) dan secara realita. Kalau kita membaca ayat-ayat sebelumnya, di sana Tuhan Yesus mengatakan, “Makanlah daging-Ku dan minumlah darah-Ku!” (lihat Yohanes 6:53-54). Orang banyak menafsirkan perkataan Tuhan Yesus tersebut secara harafiah… seolah-olah mereka memang harus memakan daging Tuhan Yesus dan minum darah Tuhan Yesus. Karena itu, reaksi spontan mereka adalah, “Nggak mungkin! Masak manusia disuruh makan daging manusia? Masak manusia disuruh minum darah manusia? Masak kita diajari jadi kanibal?!” (lihat Yohanes 6:52). Ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah roti yang telah turun dari surga…” (lihat Yohanes 6:41), hati orang banyak itu langsung bereaksi. “Halaaah… saya tahu, Engkau kan anak tukang kayu… saya tahu nama ayah-Mu, Yusuf” (lihat Yohanes 6:42). Orang banyak itu mengaitkan perkataan Tuhan Yesus dengan realita. Memang benar, realitanya Tuhan Yesus adalah anak Yusuf. Dan, mereka tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Ini berbeda dengan cara menafsirkan perkataan Tuhan Yesus oleh kedua belas murid.
No Turning Back!
May 11, 2019