Khotbah Perjanjian Lama

Peranan Tuhan dalam Pengambilan Keputusan

Jadi, masalahnya memang bukan soal salah atau benar pada masa lalu, tetapi bagaimana sikap kita sekarang dalam menghadapinya? Apakah kita akan menutupi kesalahan pada masa lalu dengan kesalahan yang lebih besar lagi? Kalau orang menipu kita, kita akan balas dengan menipu anaknya, biar impas. Ataukah kita tipe orang yang selalu menyalahkan orang lain, menyalahkan diri kita sendiri, menyalahkan sekeliling kita atau bahkan menyalahkan Tuhan? Orang Israel adalah orang yang sadar bahwa diri mereka salah, lalu berhenti. Mereka tidak membuat kesalahan yang lebih besar dengan menutupi kesalahan mereka, tetapi bersedia menerima konsekuensi dari kesalahan mereka. Karena itu, mereka tidak mengangkat pedang dan membunuh orang Gibeon. Sebaliknya, mereka melibatkan Tuhan. Demikian pula seharusnya dengan kita. Kita mengakui kesalahan kita dan menjadikannya pelajaran yang paling berharga untuk masa depan. Ketika salah mengambil keputusan, kita boleh kecewa terhadap diri kita dan orang lain boleh menertawakan kita dan bersukacita atas kemalangan kita, tetapi meskipun kita telah melakukan kesalahan, tangan Tuhan akan terus ada di dalam hidup kita. Seperti juga pengalaman orang Israel yang merasakan tangan Tuhan itu tetap bekerja di dalam hidup mereka walaupun mereka telah berdosa di hadapan Tuhan. Lewat keputusan yang salah ini, ratusan tahun kemudian, orang Gibeon yang dibiarkan hidup berasimilasi dengan orang Israel. Dengan demikian, akhirnya mereka terhisap masuk menjadi bagian dari Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *