lima
Kisah berikut baik untuk mengakhiri bagian ini. William H. Willimon suatu kali berjumpa dengan seorang janda di Belfast, Irlandia Utara. Ibu ini seorang Kristen yang taat yang melakukan banyak pelayanan bagi orang miskin di kota yang penuh kerusuhan itu. Ketika William bertanya kapankah suaminya meninggal, ibu ini menjawab, “Ia terbunuh sepuluh tahun lalu.” “Terbunuh?” Ibu ini menjawab, “Benar. Saya menciumnya sesaat sebelum ia meninggalkan rumah untuk pergi bekerja, sementara putri kami memeluk kakiku.” Ketika ia memasuki mobilnya di depan rumah, dua orang tiba-tiba muncul, dan salah seorang dari mereka menembak suamiku lima kali tepat di mukanya. Pria satunya lagi menembaki kami, namun kami berdua berhasil menyelamatkan diri. Kemudian mereka pergi. Mereka rupanya para-militer, IRA. Suamiku adalah pengawas sebuah penjara lokal.” Aku menyahut perlahan, “Sungguh menyedihkan … Lalu bagaimana Ibu bisa melanjutkan hidup Ibu sampai detik ini?” Ibu itu menjawab, “Aku berdiri di samping mayat suamiku dan mulai mengucapkan Doa Bapa kami. Aku mengucapkan doa itu sampai pada kalimat soal pengampunan, dan aku berkata pada detik itu, ‘Tuhan, Engkau sudah mengampuni begitu banyak dosaku, dan tentu Engkau memintaku mengampuni orang lain juga. Aku mau berusaha melakukannya, namun Engkau harus menolongku setiap hari untuk tidak dihancurkan oleh kemarahan. Setiap hari.’ Aku membiarkan Allah marah pada mereka, atau menghukum mereka, atau mengampuni mereka, atau apa pun yang Allah mau lakukan. Aku memilih untuk mengampuni … Dan Tuhan menolongku dengan tidak membiarkan kemarahan membunuhku.”