Kemarahan itu sendiri sebenarnya berwajah ganda. Di satu sisi, Alkitab mencatat peristiwa marahnya Yesus di pelataran Bait Allah sebagai kemarahan yang justified. Alkitab juga mencatat berulang kali kemarahan Allah pada manusia, sebagaimana dicatat misalnya dalam Mazmur 137 yang amat mengerikan itu:
7 Ingatlah, ya TUHAN, kepada bani Edom, yang pada hari pemusnahan Yerusalem mengatakan: “Runtuhkan, runtuhkan sampai ke dasarnya!” 8 Hai puteri Babel, yang suka melakukan kekerasan, berbahagialah orang yang membalas kepadamu perbuatan-perbuatan yang kaulakukan kepada kami! 9 Berbahagialah orang yang menangkap dan memecahkan anak-anakmu pada bukit batu! (Mzm. 137:7-9).