Dengan muka sedikit kemerah-merahan karena malu ia menjelaskan, “Orang-orang di sekeliling saya saat itu tidak pernah melihat saya mengajar Sekolah Minggu, tidak pernah mendengar saya berdoa. Mereka tidak pernah melihat saya sebagai kolektor dalam Ibadah Minggu. Yang sering mereka dengar dari saya adalah perkataan kotor yang tidak senonoh, yang sering mereka lihat dari diri saya adalah sosok yang pemarah. Berulang kali saya tertangkap basah dengan ketidakjujuran saya. Saat berdiri bersama mereka saat itu, berulang kali saya berpikir dalam hati, “Saya harus berlutut di dekat teman yang sekarat itu agar ia mempersiapkan dirinya menghadapi kematian. Namun ketika saya melihat wajah orang-orang di sekitar saya, saya tidak berani melakukannya.”
Tiga Tindakan Nyata untuk Meraih Hidup Berarti: Jauhilah-Kejarlah-Bertandinglah
February 21, 2018