Sesungguhnya, kehidupan pribadi, keluarga, atau komunitas orang percaya bisa dilukiskan sebagai sebuah perahu yang tengah berlayar di lautan lepas. Ingat, kita bukan bagaikan perahu yang ditempatkan dalam sebuah akuarium besar, yang terlindung dengan empat sisi dinding kaca yang tebal. Sebaliknya, kita bagaikan berada di suatu lautan lepas yang setiap saat siap dihadang oleh terpaan badai, hujan, dan gelombang yang dahsyat. Jangan heran bila kehidupan kita yang nyaman dan damai tiba-tiba terusik dengan keributan, kesulitan, dan kekacauan. Keharmonisan hidup rumah tangga tiba-tiba diterpa pertengkaran dahsyat. Mengenal realitas adanya badai tidaklah cukup. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus melihat siapa atau apa penyebab badai tersebut? Bila hal itu jelas karena kecerobohan, kerakusan, kelalaian, atau keberdosaan pribadi, maka langkah yang tepat untuk menantikan badai itu reda atau sirna ialah menyesali sekaligus mengoreksi kelemahan pribadi. Sebagai contoh konkret, keharmonisan rumah tangga terusik karena adanya perselingkuhan. Badai keluarga ini baru akan sirna atau reda bila pihak yang berselingkuh itu segera menyadari, menyesali, dan berhenti dari ketidaksetiaannya yang sudah mencemarkan janji pernikahan yang pernah diucapkannya di hadapan Tuhan, keluarga, dan jemaat. Kalau badai itu menerpa karena kondisi di luar diri, misalnya karena krisis ekonomi serta berbagai eksesnya, maka dengan keyakinan bahwa adanya penyertaan Tuhan, dengan berpegang pada janji Tuhan dalam Ibrani 1:3, “Yesus Kristus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Kuasa ini pula yang akan meredakan amukan badai kehidupan kita.
Ketika Badai Melanda
March 3, 2018