Realitas Adanya Kepanikan (4:38)
Dari dua belas murid Yesus kita temukan paling sedikit terdapat empat orang mantan nelayan, dan saya sangat yakin bahwa mereka tentu tidak asing dengan fenomena alam seperti terpaan badai dan gelombang. Bahkan saya percaya mereka sudah berbuat semaksimal mungkin untuk mengatasi situasi ini. Amat mungkin mereka sama capainya dengan Tuhan Yesus saat meniti kehidupan pelayanan hari itu. Namun, mereka tidak sempat untuk tidur atau istirahat walau sejenak. Dalam situasi dan kondisi yang genting ini, mereka tahu ke mana mencari pertolongan. Inilah sikap tepat yang Allah kehendaki dari para murid-Nya. Betapa sering dalam berbagai aspek kehidupan ini, Tuhan harus menghantar kita sampai pada jalan buntu untuk menarik perhatian kita hanya kepada Dia. Tatkala para murid sadar terhadap fenomena alam lewat amukan badai, air danau yang menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu itu mulai penuh dengan air, manakala usaha mencari solusi berdasarkan pengalaman hidup mereka sebagai nelayan gagal, mereka pun segera mencari Yesus. Oh. Apakah Dia sanggup; mungkinkah Dia ini yang pernah menahirkan si kusta, mencelikkan si buta, penyembuh berbagai jenis penyakit ini juga berkuasa atas angin dan danau ini. Dengan kepanikan besar serta kekerdilan iman, mereka datang ke buritan perahu sambil membangunkan Yesus, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Coba kita lihat, realitas kepanikan ini telah menepis keyakinan mereka akan kepedulian Tuhan Yesus pada mereka. Sangat kontras dengan keyakinan teguh Yesus kepada Allah Bapa: justru dalam amukan badai itu, Ia tertidur di buritan perahu.