Dalam kehidupan yang tiada menentu dewasa ini, bukan hanya isu kericuhan tetapi fakta kerusuhan, pembakaran bahkan penjarahan terjadi beruntun tiada henti. Realitas kepanikan dan kecemasan sudah menjadi akrab dengan kita akhir-akhir ini. Sebagai seorang rohaniwan, jelas saya juga tidak kebal terhadap perasaan panik. Bahkan pada diri orang-orang kudus dalam sepanjang abad, setiap zaman, dan di berbagai kawasan dunia, kepanikan kerap melanda mereka sehingga terdengarlah seruan yang mirip dengan jeritan kita, misalnya “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya Tuhan dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mazmur 10:1). Terdengar ratapan yang berbunyi, “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!” (Mazmur 44:23-24). Sama seperti para murid di tengah amukan badai itu, mereka tidak habis pikir mengapa justru Tuhan tertidur sementara maut sedang mengintip.
Ketika Badai Melanda
March 3, 2018