Kelahiran di kandang hewan, dibaringkan di palungan, dikunjungi oleh gembala miskin dan sederhana mewarnai setting Natal pertama. Natal menjadi spesial bukan karena meriahnya perayaan, indah dan uniknya dekorasi dan pohon natal, banyaknya kue-kue dirumah, namun karena SIAPA yang lahir di hari itu.
Perayaan natal seharusnya menolong kita mengevaluasi diri, apakah sungguh-sungguh kita berjumpa secara pribadi dengan Yesus, yang kelahirannya kita rayakan? Ataukah kita sekadar mengikuti berbagai ibadah, kebaktian dan perayaan Natal tanpa pemaknaan? Masihkah kita antusias dan bisa berefleksi ketika mendengar kisah-kisah Natal yang mungkin saja sama setiap tahun dan telah dimulai sejak kita sekolah minggu? Atau kita kadang merasa bosan dan berkata, “Yah kisah orang majus lagi, gembala lagi, Maria Yusuf lagi!” Jangan lupa, andaikata 1000 kali kita mendengar kisah yang sama, maka 1000 kali itu juga kita diingatan akan kasih Allah bagi manusia berdosa! Lalu, jika Natal kita maknai sebagai perayaan ulang tahun Yesus, maka kado seperti apa yang akan kita persembahkan bagi Dia?