Dari perikop yang baru kita baca tadi, kita akan menyimak beberapa butir kebenaran Tuhan sebagai pedoman kita manakala badai kehidupan tengah melanda.
Realitas Adanya Badai (4:35-37)
Dari tiga ayat ini, kita tahu bahwa Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk bertolak ke seberang. Bersama mereka Tuhan Yesus menumpang sebuah perahu untuk menyeberangi Danau Galilea, ada juga yang menyebut Laut Galilea. Sebuah danau yang 13 mil panjangnya dan 8 mil luasnya. (1 mil=1,5 Km, jadi panjang danau ini kira-kira 19.5 Km dengan luas kira-kira 12 Km). Orang banyak pun Suatu rombongan murid (dalam arti pengikut Tuhan Yesus) menyertai pelayaran ini dengan perahu mereka masing-masing. Perhatikan, inisiatif untuk menyeberangi danau ini berasal dari Tuhan Yesus, bukan? Namun, perhatikan yang dikatakan ayat 37, “Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu penuh dengan air.” Adanya keikutsertaan Tuhan Yesus di dalam perahu tidak membuat mereka kebal terhadap terpaan badai, bukan? Bagi saya pribadi, hal ini sudah cukup sebagai bukti bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan, para pengikut Tuhan Yesus tidak kebal terhadap terpaan berbagai badai, entah itu badai kesulitan, kehidupan, kekurangan, kerusuhan, penjarahan, dan perlakuan yang kasar dari orang jahat. Mungkin segera terbersit dalam benak Anda, “Kalau demikian, apa bedanya saya sebagai pengikut Tuhan Yesus dengan orang lain yang bukan pengikut Tuhan apabila pengalaman pahit dan menyakitkan itu juga datang menerpa saya? Oh jelas beda, saya dan Anda sebagai orang percaya yang tengah diterpa badai itu, sesuai dengan waktu ilahi (divine time) Tuhan Yesus yang menyertai pelayaran bersama kita itu akan membawa kita keluar dari amukan badai itu. Sedangkan orang yang tidak memiliki penyertaan Tuhan Yesus, di tengah kefrustrasiannya ia terus terombang-ambing dalam amukan badai dan gelombang dahsyat, bahkan cepat atau lambat akan tenggelam dan binasa.