Sudah menjadi sifat umum manusia, yang baru akan berpaling kepada Tuhan manakala segala sumber pertolongan sirna; manakala ia ketahuan menderita penyakit terminal, kematian, kehilangan pekerjaan akibat PHK, atau jenis tragedi lain dalam hidup. Dengan kondisi seperti itu, barulah mereka sadar serta segera berseru kepada Tuhan tepat seperti sikap para murid Yesus saat itu.
Allah senantiasa berkenan tatkala manusia berseru kepada-Nya, teristimewa untuk meminta keselamatan jiwa. Sangat mungkin kita sanggup memberikan pertolongan kepada orang lain, misalnya memperkenalkan atau sekaligus membawa obat mujarab untuk kesembuhan, penghiburan, solusi kebutuhan finansial, dan lain-lain tanpa intervensi langsung dari Allah. Tetapi manusia yang berada di luar anugerah keselamatan mutlak membutuhkan intervensi Allah. Seruan dalam nada keputusasaan untuk keselamatan jiwanya ini, tidak lain sebagai tanda pengenalan manusia yang hakiki bahwa manusia adalah milik Allah sendiri.