Khotbah Perjanjian Baru

Makna Kebangkitan Tubuh Jasmani

 

Dari semua pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa keinsanan dan kepri­badian manusia akan lenyap begitu saja setelah ia mati. Jadi jika ada sesuatu yang terus hidup tanpa mengalami kematian, pasti itu bukanlah manusia, dan juga bukan suatu bentuk kesatuan individu yang hidup dengan normal.

 

Prinsip dasar dari filsafat Yunani kuno adalah dual­isme, sebuah konsep yang umumnya dihubungkan dengan seorang filsuf ternama, Plato. Dualisme menandaskan bahwa segala sesuatu yang bernuansa spiritual (rohani) pada hakikatnya adalah baik dan segala sesuatu yang bersifat fisikal (jasmani) adalah jahat. Bagi siapa saja yang menganut pandangan ini, maka ide tentang kebangkitan tubuh dinilai repug­nant (menjijikkan). Menurut mereka, alasan utama manusia melangkah pada kehidupan setelah kematian tak lain karena mereka ingin melarikan diri dari segala hal yang bersifat jasmani. Mereka berpikir bahwa tubuh itu bagaikan sebuah kubur, atau perangkap, yang membelenggu roh manusia selama hidup di dunia ini. Bagi orang‑orang Yunani, tubuh mereka akan berakhir dan mereka tidak mau membawanya serta pada kehidupan selanjutnya. Mereka percaya akan immortalitas (kekekalan) roh dan dengan tegas menentang ide kebangkitan tubuh. Paulus mengalami pertentangan itu dalam pelayanan penginjilannya di Areopagus. Ketika para ahli filsafat di Atena mendengar pengajarannya mengenai kebangkitan orang mati, beberapa dari mereka mencemooh dan berkata, “lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal ini” (Kisah Para Rasul 17:32). Seneca memiliki pandangan dualisme yang khas, “Tatkala hari itu tiba, ketika akan terjadi pembauran ilahi dan manusiawi, maka aku akan meninggalkan tubuhku ini, dan akan kembali menjadi allah.” Beragamnya ajaran serta filsafat mengenai kebangkitan membuat orang-orang Yahudi yang juga menjadi jemaat di Korintus mempertanyakan kebenaran dari pengajaran Paulus mengenai kebangkitan. Kendatipun fakta­nya pengajaran tentang kebangkitan telah diberikan sejak zaman Perjan­jian Lama, namun sejumlah orang Yahudi, seperti para Saduki, tidak percaya akan kebangkitan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *