Khotbah Perjanjian Baru

Prinsip-Prinsip Kehidupan yang Penuh Kuasa

Setan tidak dapat merebut iman keselamatan kita, namun ia dapat, dan acap kali membuat kita ragu akan kualitas iman kita dengan hal‑hal yang tampak doktrinal tentang Firman Allah. Apabila kita tidak memegang teguh pemahaman yang benar akan Kitab Suci, kita tentu akan sangat mudah tergelincir pada pola pikir yang tidak benar, memercayai hal yang tidak benar dan berperilaku tidak benar pula. Dalam konteks jemaat Korintus pada masa itu, mereka berada dalam sebuah kondisi yang membuat mereka menganggap bahwa kebena­ran Allah adalah sebuah kebodohan, sebagai akibat pengaruh dari orang-orang di sekeliling mereka yang bukan anggota tubuh Kristus (1 Korintus 1:18‑21). Hal utama yang menjadi pegangan hidup mereka adalah filsafat manusia dan kebijaksanaan, dan bukan Firman Allah. Dengan daya dan upaya untuk menyatukan hikmat manusia dan hikmat Allah, mereka telah meremehkan keunikan dan otoritas kebenaran Allah. Paulus memeringatkan jemaat Korintus, “janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah” (1 Korintus 3:18,19). Seperti banyak juga orang yang menyebut diri Kristen dewasa ini, mereka menganggap bahwa Kitab Suci tidak lain merupakan komentar manusia tentang Allah yang selanjutnya diwujudkan dalam bentuk tulisan. Apabila ternyata kemudian kebenaran tentang Allah itu terbukti benar menurut logika berpikir mereka, maka mereka mau memercayainya sebagai sebuah kebenaran. Jadi, mereka menyaring segala kebenaran tentang Allah dengan dasar pengetahuan dan hikmat manusia untuk selanjutnya diterima atau ditolak sebagai sebuah bentuk ilmu atau teori baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *