Saya berpikir bahwa natal tahun itu akan menjadi sesuatu yang berbeda karena kami akan melewatinya bersama papa saya setelah belasan tahun tanpa papa. Namun, ternyata ini sekadar impian saya. Sehari sebelum natal papa saya memutuskan untuk pulang. Bagaimana mungkin, papa saya lebih memilih merayakan Natal-tahun baru bersama dengan mama tiri dan saudara-saudara tiri saya daripada dengan anak-anak maupun cucu kandungnya. Tetapi itulah faktanya! Hal ini benar-benar membuat saya kesal dan enggan ke gereja di malam natal tanggal 24 Desember. Namun, dalam perenungan pribadi saya di malam itu, saya diingatkan oleh Tuhan bahwa dengan atau tanpa papa saya, natal tetaplah natal. Natal menjadi berharga karena kehadiran Yesus yang memberikan sukacita dan damai sejahtera. Bagi saya, ini adalah penghiburan luar biasa yang Tuhan berikan yang sungguh meneduhkan dan mendinginkan hati saya yang panas. Kehadiran Yesus memang membawa sukacita dan damai sejahtera.
— Khotbah Natal —
The Joy of First Noel
December 23, 2019