Akan tetapi, pada kenyataannya kita sering kali bertingkah seperti itu. Merasa diri kita bebannya berat, maka kita lalu mau mencari yang lebih mudah. Kita minta kepada Tuhan, “Saya mau yang gampang itu! Saya mau yang kayak punya orang itu!” Seperti anak SMA yang minta ulangan dengan soal-soal anak SD! Ini memalukan dan mengenaskan! Karena setiap kali, apa pun yang terjadi di dalam kehidupan kita, Tuhan sudah ukur. Rasul paulus dalam I Korintus 10:13 mengatakan, sebab Allah adalah setia karena itu ia tak mungkin membiarkan kita diuji melampaui kekuatan kita. Allah mengenal kita dengan baik. Bersama Tuhan segala rute kehidupan, ketidaknyamanan yang terjadi, dan pergumulan yang terjadi masih bisa kita tanggung. Jangan memperbandingkan diri dengan pergumulan orang lain karena itu hanya membuat kita merasa lebih parah dan lebih buruk serta membuat kita tidak bisa melihat apa yang dikaruniakan-Nya kepada diri kita. Kita belajar mengerti bahwa ketika Tuhan menuntun umat-Nya, Ia membuat tuntunan itu berdasarkan pengenalan yang sempurna atas diri kita.
Karakteristik kedua (ayat 21-23): Tuhan memimpin umat-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Orang Israel ada di padang gurun dan mereka tidak memiliki bekal yang memadai untuk perjalanan panjang. Maka, sesuai dengan kebutuhan mereka, Tuhan memberi orang Israel tiang awan supaya mereka tidak kepanasan. Pada malam hari Tuhan memberi mereka tiang api supaya mereka tidak kedinginan. Tiang awan yang bergerak itu juga dibutuhkan sebagai penunjuk arah karena mereka tidak memiliki peta dan kompas. Dari peristiwa ini kita belajar satu hal, yaitu Tuhan menuntun kita sesuai dengan kebutuhan kita.