Khotbah Perjanjian Lama

Wujud Nyata Tuntunan Tuhan

Ada contoh lain. Kita yang memiliki anak lebih dari satu orang akan melihat bahwa karakteristik dari tiap-tiap anak itu berbeda. Misalnya, anak-anak itu memecahkan sebuah piring yang mahal. Bagaimana Si anak A (yang keras kepala seperti papanya; serta bandel dan sedikit kurang ajar) dan si adiknya, si B (yang hatinya seperti salju yang lemah lembut dan layaknya es krim yang mudah lumer), merespons peristiwa itu? Bukankah kepada si A kita akan memelototkan mata dan kita akan mengomel dengan kata-kata yang mengalir dengan cepat. Kalau si anak masih nggak ngeh, kita akan menjewer telinganya sampai ia sadar bahwa ia bersalah. Betul? Tetapi coba ketika kita melihat si B yang hatinya lembut seperti es krim. Saat ia ditepuk pundaknya dan kita baru mengatakan, “Nak, piring itu …”. Ia sudah menangis dan mengaku, “Saya yang mecahin piring itu….” Lain caranya, bukan? Si A baru akan mengaku salah setelah dibentak-bentak dan dijewer, sedangkan si B jika diperlakukan demikian, bisa-bisa ia bunuh diri keesokan harinya. Akan tetapi, coba sekarang dibalik. Bagaimana jika si A kita perlakukan seperti kita memperlakukan si B; si bandel itu kita tepuk pundaknya, “Nak, piring itu…” Bisa-bisa ia menjawab, “… siapa bilang itu gelas …?” Kita melanjutkan, “Piring itu pecah, Nak…” Mungkin ia akan menjawab, “Memangnya saya buta. Memangnya mama buta?” Lihat, kalau semua anak diperlakukan sama, maka tidak akan cocok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *