Tampaknya pada saat itu, jemaat di Korintus berada dalam kondisi rohani dan moral yang tidak baik, bahkan juga keadaan jasmani mereka. Hal itu tampak manakala mereka menjadi mabuk pada Meja perjamuan Tuhan (1 Korintus 11:21). Mereka tidak berjaga‑jaga di dalam hal‑hal tertentu. Mereka memerbolehkan ide dan kebiasaan penyembahan berhala yang dulu pernah mereka lakukan untuk kembali memasuki kehidupan mereka serta melenyapkan kesetiaan mereka kepada Allah dan persekutuan di antara mereka. Mereka menggantikan Firman Allah dengan hikmat manusia (1:18‑2:16); mereka terpecah ke dalam beberapa golongan (1:10‑17, 3:9), melakukan tindakan asusila (5:1‑13), bertengkar dan saling menggugat (6:1‑8), berselisih mengenai berbagai pendapat mengenai perkawinan, perceraian, dan hidup melajang (7:1‑40), menganggap diri mereka ramah (10:1‑13), tidak memedulikan kepentingan orang lain (10:23‑33), salah dalam memahami dan mempergunakan karunia rohani (12‑14), dan di atas semuanya itu, mereka tidak mengasihi, serta melakukan segala sesuatunya tanpa kasih (13:1‑6).
Prinsip-Prinsip Kehidupan yang Penuh Kuasa
August 11, 2017