Kelima, iri hati menciptakan kesedihan. Dosa-dosa mematikan lainnya, sedikitnya, memberikan “kenikmatan.” Namun iri hati menciptakan nestapa dan kepedihan. Siapa yang mampu bergembira karena ia iri hati pada sesamanya? Tak pernah ada lagi perasaan syukur dan ucapan terima kasih pada Allah.
tiga
Fulton Sheen menjelaskan bahwa iri hati sebagai dosa yang mematikan telah dijawab oleh Yesus di atas kayu salib, tatkala Ia berkata pada salah seorang penjahat di sebelahnya, “… sesungguhnya pada hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Kepastian ini disampaikan Yesus justru untuk menjawab sikap iri hati penjahat lainnya, yang bahkan hingga detik terakhir hidupnya, masih saja iri pada Yesus yang mendapat perhatian lebih dari para prajurit, masyarakat dan orang-orang terdekat-Nya. Yesus justru berpihak pada penjahat yang mampu mengakui siapa sesungguhnya “Dia yang tersalib” itu. Penjahat itu pula yang mampu menunjukkan kebaikan mutlak Yesus.