Khotbah Perjanjian Lama

Setia di Tengah Luka

Perhatikan kesaksian Yeremia tentang dirinya. Yeremia bahkan pernah menyesali pelayanannya sebagai seorang nabi. Dalam Yeremia 20:7 ia berkata, “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku.” Hasilnya? “Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari.” Ia pernah menyesali hidupnya, “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan!” (ayat 14).

Bagi saya, Yeremia adalah potret realistis kehidupan seorang anak Tuhan dalam menghidupi kesetiaan. Yeremia bukan tukang umbar kesaksian keberhasilan yang memuakkan. Yeremia bukan ke sana kemari bercerita tentang keberhasilan dan menutupi sisi pergumulan hidupnya. Orang-orang yang serius dengan kesetiaan akan mengalami pergumulan yang tidak mudah. Ada keinginan untuk menyerah dan keluar dari jalur kesetiaan. Di satu sisi, ada dimensi egosentris yang terus bergolak. Namun, di sisi lain, ada ketaatan yang membuat fokus hidup terarah kepada Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *