Rasul Petrus mengungkapkan hal yang senada bahwa semua orang Kristen sebagai “pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Petrus 4:10). Tugas ini luar biasa penting sebab ia adalah pengurus rumah Allah (Titus 1:7), apalagi ia juga dipercayakan rahasia Allah.
Kata rahasia atau musthrion yang dipakai dalam Perjanjian Baru menunjukkan adanya sesuatu yang tersembunyi dan yang hanya dapat diketahui oleh penyataan ilahi saja. Seorang hamba yang dipercayakan rahasia Allah, menerima penyataan firman Allah itu dan membagikannya kepada seluruh anggota keluarga. Saya tidak tahu apakah kita sanggup untuk berkata seperti Paulus kepada para penatua jemaat Efesus demikian, “Aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, … aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu” (Kisah Para Rasul 20:20-21,27). Patut kita sesalkan bahwa dewasa ini kita menemukan banyak orang Kristen yang memiliki gizi yang salah secara rohani. Alasannya, banyak pemberita Injil menyajikan bobot kebenaran Alkitab yang tidak seimbang. Apa yang diberitakan mungkin saja dari Kitab Suci, namun mereka tidak mengabarkan seluruh isi dan maksud Allah itu. Bahkan yang ironis, kelalaian menyingkapkan rahasia Allah ini justru mengakibatkan penyesatan.