Allah memberikan firman-Nya, Roh-Nya, karunia-Nya, dan kuat kuasa-Nya. Semua hal yang sanggup dipasok oleh seorang penatalayan adalah kesetiaannya di dalam memakai sumber-sumber daya pemberian Tuhan atas dirinya. Apa yang dituntut dari penatalayan seperti kita ini sederhana saja: menerima firman Allah itu serta mengenyangkan umat-Nya dengan penuh kesetiaan, dan menyalurkan rahasia Allah, memberitakan kebenaran-kebenaran tersembunyi yang sudah disingkapkan-Nya. Maka dari itu, dalam hal ini sama sekali tidak ada kemuliaan pribadi; tidak ada ranking seorang yang melintasi ranking orang lain. Yang terbaik dan yang menjadi tuntutan dasar bagi seorang penatalayan sejati hanyalah KESETIAAN. Melalui kesetiaan ini pula, dirinya bahkan orang lain yang dilayaninya akan mengenal bahwa ia adalah seorang penatalayan yang diurapi Tuhan.
KESIMPULAN
A Teacher’s reconsecration mengisahkan tentang seorang kepala perawat rumah sakit yang merawat seorang anak lelaki berusia 9 tahun yang sekarat. Dengan pengamatan dan pengetahuan medisnya, ia jelas tahu bahwa anak ini sudah tidak dapat tertolong lagi. Ia melangkah ringan dan dengan suara lembut bertanya apakah anak ini ingin menyampaikan berita kepada ibunya (yang saat itu untuk sementara meninggalkan dia, pulang ke rumah untuk mengasuh adiknya yang masih bayi). “Ya,” jawab si anak. “Beritahukan kepada Mama bahwa saya meninggal dalam kondisi yang penuh bahagia sebagai anak Tuhan Yesus.” “Masih ada hal yang lain lagi, Nak?” “Ya,” sahutnya. “Tolong tuliskan sepucuk surat kepada guru Sekolah Minggu saya bahwa saya meninggal sebagai seorang Kristen, dan saya tidak pernah melupakan pengajaran Sekolah Minggu yang diberikannya kepada saya.” Beberapa menit setelah itu, anak ini meninggal dengan tenang. Dua minggu kemudian, sang kepala perawat rumah sakit menerima sepucuk surat dari guru Sekolah Minggu anak itu, yang berbunyi demikian, “Allah telah menaruh belas kasihan kepadaku. Tepat hari ini sudah dua bulan lamanya saya berhenti mengajar Sekolah Minggu sebab saya merasa bahwa pengajaran saya tidak menghasilkan apa-apa. Dengan penuh frustrasi saya telah menyerahkan semua materi pengajaran dan alat peraga kepada kepala sekolah Sekolah Minggu. Setiba di rumah, surat Anda tiba dengan berita dari anak Sekolah Minggu saya. Saya tersentak dan sadar bahwa setidaknya ada seorang anak lelaki yang mengatakan ia menjadi percaya melalui pengajaran saya. Oh, saya tidak menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan telah memakai saya sebagai alat untuk memenangkan jiwa orang. Saya akan segera kembali kepada kepala Sekolah Minggu untuk meneruskan pelayanan Sekolah Minggu demi nama Kristus sendiri, dan saya akan menjalankan pelayanan ini dengan setia hingga akhir.”