Minggu lalu, saya membaca kembali sebuah wawancara atas diri seorang pendeta terkenal dalam sebuah majalah. Pendeta itu berkata, “Saya kira mimbar tidak lagi sebagai wadah untuk memberikan pengajaran, melainkan hanya sebagai instrumen terapi rohani. Saya tidak lagi menyampaikan khotbah, tetapi menciptakan berbagai pengalaman praktis. Saya tidak mempunyai waktu untuk menulis teologi sistematika, dengan maksud untuk memberikan dasar teologis yang solid kepada jemaat. Apa yang intuitif yang saya ketahui dan imani, itulah yang benar. Tiap khotbah harus dimulai dari kata hati. Kalian tidak pernah mendengar khotbah saya tentang virgin birth Yesus atau kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, bukan? Kita boleh menarik satu kesimpulan, apakah saya cukup bijak untuk mengimani virgin birth Yesus atau kebenaran tentang kedatangan Kristus yang kedua kali dalam masyarakat modern ini? Baik secara tertulis maupun secara verbal, di depan umum saya tidak menyangkali virgin birth Yesus, kebangkitan Yesus secara fisik, atau kedatangan-Nya yang kedua kali. Bagi saya, ketika saya tidak dapat memahami sesuatu hal, maka saya juga tidak mau berurusan dengan hal itu.”
Karakteristik Penatalayanan Tuhan
January 18, 2018