BISS, ada seorang bapak yang tinggal di sebuah rumah. Bapak ini memiliki kebiasaan aneh, yaitu suka menyimpan sampah di kamarnya. Ia membuang sampah sisa pekerjaannya di kamar. Sampah basah sisa memasak di dapur dibuangnya di kamar. Perlahan-lahan, hari demi hari berlalu dan kamar bapak itu pun mulai tertimbuni sampah. Namun sang bapak tetap cuek. Ia tetap melanjutkan aktivitasnya di dalam kamar itu seperti biasa. Ia mengetik, tidur dan lain sebagainya tanpa menghiraukan tumpukan sampah yang telah menggunung di kamarnya. Lama-kelamaan, lalat mulai masuk dan mengerubuti sampah basah. Bau busuk nan menyengat pun mulai bertebaran di kamar itu diakibatkan sampah-sampah yang mulai membusuk. Namun, sekali lagi, seolah tak ada apa-apa, si bapak tak jua mengacuhkan keadaan yang mulai tidak menyenangkan itu. Ia tetap tidur dan berkegiatan seperti biasa di kamar itu. Sudah dapat diduga bahwa di suatu saat, bapak itu jatuh sakit, karena lingkungan kamar yang tidak sehat dan memengaruhi kondisi fisiknya. BISS, mungkin kita mencibir dan mencela bapak itu: “Salah sendiri, kenapa nyimpen sampah di kamar, sampah ya tempatnya di tempat sampah, bukan di kamar; dibiarkan sampai busuk pula.” BISS, mungkin ada juga di antara kita dengan keheranan berkata: “Kok bisa ya bapak itu tahan, kok bisa dia nyaman dengan sampah-sampah itu, tinggal dibuang di tempatnya apa sulitnya?” BISS, mungkin kita menertawakan dan heran luar biasa dengan tindak-tanduk sang bapak. Tetapi, sadarkah Bapak Ibu, bahwa jika kita memendam rasa benci, kemarahan luar biasa kepada orang lain, tanpa mau mengampuni orang tersebut, sebetulnya kitalah sang bapak unik tadi? Kesalahan, kekhilafan, dan perilaku tidak menyenangkan dari orang lain kita simpan di dalam hati. Makin lama makin menumpuk dan menimbuni hati kita sehingga terus menerus ada dendam, benci dan sakit hati. Kita timbuni hati kita dengan kemarahan kepada orang lain, atau bahkan kepada Tuhan yang seringkali kita anggap salah dalam memperlakukan kita. Itu akhirnya memengaruhi kita, secara psikis dan secara fisik. Kita enggan melepaskan “sampah-sampah” itu dan membiarkannya membuat luka yang ada menjadi terus menganga. Kita sakit. Kita kehilangan damai sejahtera. Jalan menuju kelepasan dan kebebasan dari itu, tidak lain dan tidak bukan adalah kemauan untuk memberikan pengampunan. Jika ada orang mengatakan bahwa ia tidak bisa atau tidak mampu mengampuni, patut dipertanyakan: benarkah ia tidak mampu, atau justru tidak mau? Karena jika ia tidak mampu, Allah sumber segala kasih dan pengampunan pasti akan memberikan kepadanya kemampuan untuk mengampuni. Tetapi, jika ia tidak mau, pengampunan itu akan sulit terwujud. Padahal, pengampunan yang kita berikan sesungguhnya akan memberikan kebebasan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
— Khotbah Topikal —
Pengampunan, Jalan kepada Kebebasan
May 21, 2020