Khotbah Perjanjian Lama, Khotbah Topikal

Saul: Bersandar pada Kekuatan Manusia

Kemenangan-kemenangan yang telah dicapainya dalam peperangan melawan musuh Israel, ternyata sudah membuat Saul berubah. Memang kelihatannya dia masih berkata kepada Samuel bahwa ia belum memohonkan belas kasihan Allah (1Sam 13:12), tetapi sebenarnya dia sedang “memaksa” Allah dengan keberaniannya melakukan korban bakaran dan korban keselamatan Sebagai orang Israel, Saul tahu persis bahwa mempersembahkan korban adalah hak para imam, bukan hak seorang raja. Samuel dengan jelas telah menguraikan hak-hak raja (1Sam 10:25) sehingga tidak ada alasan bagi Saul untuk tidak mengetahui apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan sebagai raja. Suatu sikap yang sungguh meremehkan perintah Tuhan. Saul lebih mementingkan hal-hal lahiriah, seperti upacara-upacara korban, dari pada Tuhan. Taat kepada Tuhan jauh lebih penting dari semua upacara-upacara lahiriah. Dia bahkan berani melakukan praktek memanggil arwah yang dia sendiri telah melarangnya (1Sam 28:5-25). Karena ketakutan diserang oleh orang Filistin, maka Saul berani melanggar perintah Allah yang melarang orang percaya melakukan praktek-praktek perdukunan. Saul gagal dan akhirnya ditolak oleh Tuhan. Ketidaktaatan Saul mencapai puncaknya ketika dia akhirnya berani melawan ketetapan Tuhan dengan terus menerus mencoba membunuh Daud yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menggantikan dia (1Sam 18:6-11, 25; 19:10-12, 20, 33; 24:1-2; 26:1-2). Saul tidak rela kehilangan takhta duniawi, dan akhirnya kehilangan takhta sorgawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *