Pertama, ketika pulang dari pertemuannya dengan Samuel, dia tidak berani menceritakan kepada pamannya bahwa Samuel telah mengurapi dia menjadi raja Israel (1Sam 10:16), padahal Samuel adalah nabi dan hakim yang paling didengar oleh orang Israel. Boleh dikatakan semua persoalan bangsa Israel selalu dibawa ke hadapan Samuel lebih dahulu sebelum orang Israel mengambil keputusan.
Yang kedua, ketika akan dimahkotai menjadi raja, ia menyembunyikan diri (1Sam 10:21-22). Jelas sekali bahwa Saul benar-benar orang yang kurang percaya diri. Namun sebenarnya kasih karunia Tuhan melampaui semua kekurangan manusia, asal manusia itu mau taat kepada Allah. Dia sanggup mengubahkan orang yang paling tidak pantas sekalipun asal orang itu mau taat. Saul pada akhirnya memang diangkat menjadi raja atas Israel dan kemudian melakukan banyak hal luar biasa dalam menegakkan kewibawaan bangsa Israel. Hal ini terjadi karena Tuhan memimpin dan menyertai dia. Keberhasilan Saul menjadi raja dan memenangkan peperangan dengan musuh-musuh Israel adalah karena ia didorong oleh Roh Allah dan dibantu oleh orang-orang gagah perkasa yang digerakkan juga oleh Allah (1Sam 10:26; 11:16-17). Sama sekali bukan Saul yang membuat kemenangan itu. Orang yang kurang percaya diri dan pemalu itu menjadi pahlawan yang besar karena Allah beserta dengan dia, tetapi Saul kurang menyadari kebenaran itu.