Dengan dukungan prajuritnya yang telah terbukti beberapa kali memenangkan peperangan, maka Saul merasa tidak terlalu perlu Allah. Tindakan-tindakan keagamaannya hanya sekedar suatu upacara belaka. Tidak ada hati yang sungguh-sungguh taat kepada Allah. Dia lebih bersandar kepada kekuatan dan kekuasaan yang dia miliki dari pada kepada Allah. Saul menjadikan Allah sekedar “ban serep” yang menjadi penting hanya saat dibutuhkan, yaitu pada saat menghadapi masalah-masalah yang melebihi kemampuannya (1Sam 13:6-12). Ketika ditinggal oleh prajuritnya, maka Saul merasa perlu datang pada Allah, mohon belas kasihan-Nya melalui upacara persembahan korban. Tetapi bagi Saul upacara itu hanya sekedar upacara keagamaan yang boleh dilakukan dengan sembarangan. Dia tidak mau terikat dengan aturan-aturan yang Allah berikan. Dengan kata lain, Saul sebenarnya sedang “memaksa” Allah dan menempatkan dirinya di atas Allah. Dia pikir asal upacara dilakukan maka Allah tidak akan punya alasan untuk tidak melakukan tugas-Nya, yaitu menolong bangsa Israel. Kalau Allah tidak mau menolong dia, maka Allah akan “bersalah” terhadap umat-Nya. Bukankah upacara dan korban sudah diberikan kepada Allah? Bukankah Allah sudah menerima imbalan dari apa yang harus dilakukan-Nya?
Saul: Bersandar pada Kekuatan Manusia
February 17, 2022