Khotbah Perjanjian Baru

Tetap Setia di Saat Kritis

Ada satu ungkapan yang indah, Saudara… yang namanya pernikahan itu diikat oleh cincin yang terdiri dari tiga ring. Yang pertama adalah engagement ring (cincin pertunangan). Yang kedua adalah wedding ring (cincin pernikahan). Bila kita berbicara mengenai kesetiaan, kedua cincin tersebut belum komplit. Mengapa? Karena setelah kita menikah, kesetiaan itu akan diuji dengan cincin yang ketiga yang dinamakan dengan suffering. Penderitaan! Bagaimana saat penderitaan, saat masalah kritis terjadi di tengah-tengah rumah tangga; apakah kita juga masih setia dengan pasangan kita? Oleh karena itu, Saudara, saya ingin mengajak Saudara belajar dari Maria. Bagaimana Maria di dalam situasi yang sangat kritis tetap setia di dalam hidupnya?

Pertama, kita akan melihat, kesetiaan Maria itu ditunjukkan melalui keberaniannya.

Keberanian dalam hal apa? Keberanian mengambil keputusan di dalam hidupnya. Mari, Saudara perhatikan! Saat malaikat Gabriel datang menemui Maria, ia mengatakan, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Nah, Saudara yang dikasihi Tuhan, di sini kita melihat salam atau shalom yang secara harafiah bisa berarti sesuatu hal yang sangat membahagiakan. Sesuatu hal yang sangat membuat suka cita. Namun, justru inilah yang dipertanyakan oleh Maria. Apa yang dimaksud dengan salam itu? Apa yang dimaksud dengan kegembiraan yang akan aku terima melalui Tuhan? Malaikat pun lalu mengatakan, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Ini merupakan berkat yang sangat besar. Maria mendapatkan kasih karunia di hadapan Tuhan.

1 thought on “Tetap Setia di Saat Kritis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *