Khotbah Perjanjian Baru

Tetap Setia di Saat Kritis

Sering kali kita menganggap bahwa kasih karunia adalah suatu hal yang pasif. Kita  mengira bahwa kasih karunia kita terima begitu saja. Padahal dari apa yang disampaikan oleh malaikat Gabriel, kita tahu bahwa di dalam kasih karunia ada tanggung jawab yang sangat besar, yang harus ditanggung oleh Maria. Apa itu, Saudara? Hamil tanpa suami! Itulah tanggung jawab besar yang harus diemban oleh Maria. Dan, apakah ia berani memutuskan menerima kasih karunia itu atau tidak? Karena, faktanya, kalau kita lihat Ulangan 22 ayat 23 sampai 24 ada konsekuensi yang besar; saya percaya Maria tahu persis apa konsekuensinya saat ia menerima kasih karunia ini. Ayat itu mengatakan, “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan—jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati”. Saudara perhatikan, konsekuensi hamil tanpa suami adalah dirajam batu sampai mati.

1 thought on “Tetap Setia di Saat Kritis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *