Khotbah Perjanjian Lama

Hidup itu Seperti Uap

Hidup itu Seperti Uap (Pengkhotbah 1:1-11)

oleh : Andy Kirana

 

Shalom. Puji Tuhan saat ini kita boleh bersama-sama di dalam ibadah yang luar biasa. Saya akan membagikan satu tema yang akan mengingatkan kita semua supaya kita tidak menyia-nyiakan hari-hari yang dirahmati oleh Tuhan. Dengan demikian, hari-hari yang kita jalani di dalam hidup ini sungguh-sungguh menjadi bagian berkat kita saat bersama dengan Tuhan.

Tema kita saat ini ialah Life as Vapor. Ini satu tema yang berbicara betapa sia-sianya hidup yang kita jalani ini apabila kita menjalaninya tanpa Tuhan. Itulah kehidupan yang seperti uap. Melalui tema ini juga kita diingatkan: “Anda mempunyai satu kehidupan. Hanya itu. Anda diciptakan untuk Allah. Jangan menyia-nyiakannya.” Namun, sebelum kita membaca dan merenungkan firman Tuhan, saya ingin mengajak Saudara untuk mendengar dan merenungkan sejenak puisi berikut ini (minta seorang jemaat untuk membaca puisi).

Puisi terakhir WS. Rendra
beliau buat sesaat sebelum beliau wafat

Hidup itu seperti UAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji MILIKKU,
aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?
UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku,
apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA….

Ketika aku berdo’a,
kuminta titipan yang cocok dengan
KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,

Dan kutolak SAKIT,
Kutolak  KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.

Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA,
harus berjalan seperti penyelesaian matematika
dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah Mitra Dagangku
dan bukan sebagai Kekasih!

Kuminta DIA membalas perlakuan baikku
dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …

Duh ALLAH …

Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …

Mulai hari ini,
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur
dalam setiap keadaan
dan menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH …

Sebab aku yakin
ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKM
U adalah yang terBAIK bagiku ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *