Khotbah Perjanjian Baru

Tanda-tanda Kedewasaan Rohani

TANDA KEDEWASAAN ROHANI (1 KORINTUS 3:1-9)

oleh : Yunus Septifan Harefa

1. Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?4. Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?5. Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.6. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.7. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.8. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.9. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

 

Setiap relasi berpotensi untuk menimbulkan konflik.

Setiap hubungan pasti akan mengalami ketegangan.

Suatu saat, sepasang muda-mudi datang kepada seorang konselor dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan di antara mereka. Ketika diajak ngobrol bertiga oleh si konselor, tidak ada titik temu, karena kedua pihak tidak ada yang mau mengalah satu dengan yang lain, masing-masing ingin didengarkan dan merasa diri yang paling benar.

Akhirnya si konselor berbicara kepada mereka secara bergantian, dan menyuruh si pria untuk menunggu di luar. Lalu si konselor itu menanyakan kepada wanita itu, “Mengapa engkau bertengkar dengan kekasihmu?” Tanpa basa-basi, wanita itu langsung menjawab, “dia tidak mengerti aku, dia tidak memahami aku, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, aku selalu salah di matanya”. Setelah itu,  dengan santai si konselor melanjutkan pertanyaannya, “Apa yang kamu inginkan dari pasanganmu?” Dengan mata yang berkaca-kaca dan kepala menunduk, wanita itu menjawab, “aku ingin dia berpikir dewasa, aku ingin dia bisa memahami keadaanku, aku ingin dia peduli dengan perasaanku.

Setelah itu, si konselor memanggil si pria dan menyuruh si wanita untuk keluar. Pertanyaan yang sama diajukan kepada sang pria, “Mengapa engkau bertengkar dengan kekasihmu?” Si pria itu langsung menjawab, “dia tidak mengerti aku, dia tidak memahami aku, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, aku selalu salah di matanya. Lalu pertanyaan yang sama dilanjutkan oleh si konselor, “Apa yang kamu inginkan dari pasanganmu?” Si pria menjawab, aku ingin dia berpikir dewasa, aku ingin dia dia bisa memahami keadaanku dan tidak seperti anak-anak lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *