Renungan Berjalan bersama Tuhan

Keramahan

Keramahan

1 Tesalonika 2:1-12

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Ada satu keluarga masuk ke dalam hotel bintang lima. Keluarga ini kelihatan sederhana sekali. Bagian penerima tamu hotel memandang keluarga ini dengan begitu sinis karena dianggap tidak mampu membayar biaya penginapan yang bertarif dolar. Ketika sampai di meja resepsionis, segera resepsionis itu berkata, “Pak, pembayaran hotel kami menggunakan dolar.” Bukan itu saja, beberapa resepsionis itu menyambut dengan muka dingin tanpa senyum sama sekali. Bapak tadi tanpa banyak bicara, hanya dengan tersenyum, memberikan sebuah kartu nama dan meninggalkan hotel itu. Para resepsionis itu pun membiarkan bapak itu pergi begitu saja tanpa ucapan “terima kasih” atau “sampai jumpa lagi” atau “Pak, kami senang dengan kehadiran bapak”. Biasanya kalimat-kalimat itu ditujukan kepada tamu-tamu hotel.

Segera setelah bapak itu pergi, mereka mengambil kartu nama yang ditinggalkan di meja tersebut, yang sebenarnya akan langsung dibuang ke tong sampah. Namun, sebelum dibuang, mereka sempat membacanya sebentar. Alangkah terkejutnya mereka semua, ternyata bapak itu adalah kakak dari pemilik hotel bintang lima tersebut, dan bapak itu juga mempunyai hotel yang jauh lebih besar dari adiknya. Dengan muka yang memerah, jantung berdebar, keringat dingin, bahkan mulut terkatup, mereka tidak mampu berkata apa-apa. Mereka berusaha mencari bapak tadi yang sudah beranjak dari meja resepsionis. Syukurlah, bapak itu masih sedang duduk di ruang kafe sambil minum kopi hangat. Para petugas resepsionis menemui bapak tersebut, tetapi kali ini tidak dengan sikap yang seperti tadi. Mereka berubah total untuk menyambut bapak tadi. Penuh senyum dan keramahan yang luar biasa, sambil berkali-kali meminta maaf. Raut wajah yang ketus, sorot mata yang tajam, dalam sekejab berubah menjadi seyuman yang manis dan mata yang bersinar-sinar, menunjukkan keramahan.

Keramahan palsu karena keramahan itu didasari dengan kondisi dan keberadaan seseorang, apakah mampu atau tidak, pejabat atau bukan pejabat. Yang jelas, ketidakramahan seseorang kepada yang lain mendatangkan situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan. Orang yang tidak ramah menghasilkan relasi yang tidak bersahabat dan membuntukan komunikasi yang baik. Bahkan membuat orang marah dan menjadikan orang lain bersikap tidak ramah pula. Sangat berbeda bila orang disambut dengan keramahan. Ketika disambut dengan ramah, orang yang sedang galau hati, atau marah karena sesuatu hal akan merasakan kegalauan dan kemarahannya mereda, hati dan kepalanya menjadi dingin, dan ia menjadi enak diajak berkomunikasi dengan baik. Ternyata keramahan dapat menghasilkan banyak sikap dalam berelasi dengan orang lain.

Paulus memberikan perhatian yang serius mengenai sikap dalam berelasi dengan orang lain. Paulus berkata, “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya” (1 Tesalonika 2:7). Keramahan di sini tidak tergantung kepada siapa kita harus bersikap ramah karena kita harus ramah kepada semua orang siapa pun mereka dan bagaimanapun keadaannya. Keramahan yang keluar dari dalam hati dan sungguh-sungguh mau mengasihi. Ramah seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawati anaknya, dengan hati penuh sukacita dan kesabaran. Ramah yang bukan lahiriah, melainkan batiniah. Keramahan lahiriah tidak sama dengan yang batiniah. Ramah yang batiniah adalah keramahan yang muncul dari dalam hati yang kemudian memancar keluar secara lahiriah. Sikap ramah itu juga menjadi salah satu bagian untuk menyatakan Injil kepada orang lain. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *