Renungan Berjalan bersama Tuhan

Mahkota Orangtua

Mahkota Orangtua

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka” (Amsal 17:6)

Pernahkah kita mengamati anak-anak kita sewaktu kecil atau cucu-cucu kita ketika mereka masih berusia batita, balita, atau paling tidak masuki kelas 1 SD? Pada umumnya mereka sering menceritakan tentang orangtua mereka, entah ayahnya, ibunya, kakeknya, atau neneknya. Mereka merasa sangat bangga ketika bisa menceritakan tentang orangtua mereka. Selain itu, kakek atau nenek juga begitu antusias dan bersemangat ketika menceritakan tentang cucu mereka yang lucu-lucu. Mungkin semangat sang kakek dan nenek tidak kalah dengan semangat para ayah dan ibu ketika menceritakan tentang anak atau cucu. Itulah pengalaman kehidupan yang pernah kita lalui bersama. Seiring dengan berjalannya waktu, entah kita merasa lambat atau cepat, anak cucu yang dahulu lucu-lucu sekarang sudah beranjak dewasa.

Mereka mulai kuliah, bekerja, lalu berumah tangga. Kelucuan anak atau cucu hanya bisa dilihat melalui foto-foto atau kliping-kliping film kalau sempat terekam kamera. Kelucuan mereka sudah tidak life lagi, melainkan ditonton dalam bentuk barang, baik foto atau video. Ke mana mereka? Mereka sudah dewasa dan mempunyai aktivitas sendiri-sendiri; mereka sudah penuh dengan kesibukan masing-masing. Tak heran jika kita kerap menjumpai para ayah, ibu, kakek, nenek yang kesepian karena mereka sudah ditinggal pergi oleh para anak dan cucu. Sekarang anak dan cucu berjuang mengarungi kehidupan mereka, entah mereka masih bersekolah atau kuliah, bekerja atau sudah berumah tangga. Sementara kedua orangtua dan kakek nenek mereka semakin tua dengan tubuh semakin lemah. Ada yang menjalani usia senja dengan penuh sukacita dan tetap terus berkarya. Namun, ada juga yang merasa sudah lelah, mudah putus asa, dan banyak mengeluh.

Apa yang dikatakan Amsal? Ternyata Salomo sangat menghibur semua orangtua dengan berkata, “Mahkota orangtua adalah anak cucu.” Mahkota adalah simbol kemenangan, keberhasilan, kebanggaan. Apakah yang menjadi kebanggaan para orangtua dan kakek nenek? Anak cucu mereka yang lucu, menggemaskan, pandai, dan masih banyak lagi kelebihan yang terus diceritakan, dari sebelum sekolah sampai lulus kuliah. Bahkan para kakek nenek merasa bangga jika masih bisa menyaksikan sang cucu berumah tangga. Demikian pula sebaliknya, kehormatan anak cucu adalah orangtua dan kakek nenek mereka. Anak-anak juga bisa menceritakan siapa kakek nenek dan orangtua mereka. Bangga karena telah dibesarkan dan dididik oleh mereka dalam kasih-Nya. Kebanggaan yang tak ternilai karena mereka merasakan bagaimana sebagai orangtua, mereka memperlengkapi anak-anak mereka dengan kebenaran-kebenaran dalam hidup. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku bersyukur untuk keluargaku karena aku boleh mengalami bagaimana pemeliharaan Tuhan pada keluargaku. Nilai-nilai kebenaran kualami dengan nyata dalam kehidupan orangtua dan kakek nenekku. Ini bukan hanya teori, tetapi contoh kehidupan yang nyata. Tuhan, aku bersyukur.
  2. Tuhan, tolonglah kami sebagai gereja agar dapat mengarahkan orangtua dan kakek nenek yang ditinggalkan sendiri oleh anak cucu mereka yang sibuk. Kiranya kami bisa menghibur mereka agar tidak menjadi orang yang kesepian, tetapi justru bangga dengan anak cucu mereka sambil terus mendoakan masa depan, kehidupan rohani, sekolah, dan kuliah anak cucu mereka sampai mereka membentuk rumah tangga yang baru. Pimpinlah kami sebagai gereja agar dapat mendampingi para orangtua, komunitas dewasa, dan mereka yang telah lanjut usia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *