Renungan Berjalan bersama Tuhan

Perintah Itu Cahaya Kehidupan

Perintah Itu Cahaya Kehidupan

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Karena perintah itu pelita dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.” (Amsal 6:23)

Menarik sekali ketika Amsal terus mengajarkan kebenaran bagi kita. Ada tiga hal yang ingin disampaikan Amsal di sini, yaitu perintah, ajaran, dan teguran. Tiga serangkai ini tidak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena memberi perintah harus ada dalam koridor atau batasan ajaran yang benar, dan ajaran yang benar pasti mengandung teguran. Maka, Amsal menekankan bahwa perintah itu adalah “pelita”, yaitu lampu atau alat penerangan yang memimpin perjalanan kita di malam hari. Pelita itu menyingkapkan kegelapan yang ada di depan atau di sekitar kita, agar kita bisa berjalan atau melakukan aktivitas kerja kita dengan baik, karena kalau ada dalam kegelapan, pasti kita tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun. Perintah yang diberikan untuk kita jalani itulah “pelita” dalam hidup kita. Maka, Amsal meneruskan nasihatnya bahwa perintah itu harus mengandung ajaran yang benar.

Ajaran itu diumpamakan seperti “cahaya”, yaitu sinar yang menerangi kegelapan. Ajaran itu menuntun seseorang pada jalan yang benar, bukan pada jalan yang gelap atau jalan hidup yang salah. Maka, Amsal memberikan perumpamaan seperti cahaya. Setelah ada perintah dan ajaran, masih ada satu lagi, yaitu teguran. Perintah dan ajaran merupakan bagian kegiatan pembelajaran semua orang. Semua yang kita lakukan ada dalam perintah dan ajaran; baik perintah itu dari diri sendiri atau dari orang lain. Yang pasti melalui perintah ada kegiatan, ada aktivitas yang dilakukan seseorang. Lalu apa hubungannya perintah dan teguran? Amsal sangat menyadari siapa sebenarnya manusia itu? Ia bukan orang yang sempurna, juga bukan orang yang tanpa batas. Bukan! Ia orang yang bisa melakukan banyak kesalahan dan yang terbatas oleh ruang dan waktu. Bagi Amsal, dalam semua kegiatan yang kita kerjakan pasti banyak kesalahan bisa terjadi. Kesalahan itu bisa disengaja atau yang tidak disengaja. Dengan demikian, menurut Amsal perlu ada teguran. Bagi Amsal “teguran yang mendidik” adalah jalan kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *