Bagian yang paling sulit ditafsirkan adalah ungkapan “tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan”. Bagi saya, referensi untuk bagian ini mengacu pada orang-orang bukan Kristen yang melihat dan memberikan observasi terhadap tuntutan bagi kita dalam hal hidup berdamai dan kekudusan. Tatkala kita gagal melaksanakan kedua tuntutan itu, saat itu juga kita gagal mendekatkan orang-orang non-Kristen kepada Kristus. Perhatikanlah bahwa ayat ini tidak berbunyi, “Tanpa kekudusan, engkau tidak akan melihat Tuhan,” tetapi “tidak seorang pun”. Dengan kata lain, ketika melihat hidup damai dan kekudusan orang Kristen, orang non-Kristen akan tertarik untuk datang kepada Tuhan. Yesus bersabda, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35). Dia juga berdoa kepada Bapa agar “mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21). Kasih kita kepada sesama menjadi kesaksian kita kepada sesama tentang Bapa dan Anak, yang itu berarti mendekatkan manusia kepada Kristus. Terlepas dari itu, tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Ketekunan untuk menjadi Christlikeness adalah sasaran yang terus menantang kita seumur hidup sebagai anak-anak Tuhan.
-
Kewaspadaan (12:15-17)
Kata “jagalah” atau yang dalam bahasa aslinya adalah episkopeo, berkaitan erat dengan kata benda episkopos, yaitu overseer atau penilik. Setiap kita hendaknya menjadi penilik bagi orang lain, menolong setiap pribadi, setiap anak Tuhan, untuk bertumbuh di dalam kekudusan dan Christlikeness. Kita tidak dipanggil untuk menghakimi, melainkan menjadi sensitif dan penuh pengertian pada kesempatan yang disediakan untuk menghantar orang lain pada keputusan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.