Pada tahun 1958, Indira Gandhi menulis sebuah memo pada Rajiv Gandhi yang berbunyi, “Seseorang harus ekstra hati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku kalau ia tidak mau mencemarkan bukan saja nama keluarga, tetapi juga bangsanya” (Tempo No. 31, 3 Oktober 1992).
Menyedihkan sekali, tidak sedikit orang Kristen, bahkan pemimpin rohani, secara sadar atau tidak sadar menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sebuah contoh yang buruk perihal komitmen hamba Tuhan kepada Kristus, sebuah kesaksian hidup yang buruk dapat mengakibatkan kejatuhan saudara seiman yang lain, merugikan kerohanian orang lain. Allah menghendaki supaya mereka yang lemah itu menjadi sembuh, diselamatkan, dan mampu untuk berlari hingga pada garis akhir mereka. Pertanyaannya, rindukah kita atau mampukah kita secara terus-menerus berlari dengan baik pada lintasan lomba yang diwajibkan bagi kita? Segera terlintas dalam benak saya sebuah syair lagu: “May the foot prints that we leave lead others to believe! May the foot prints that we leave lead other to obey! O, May all that come behind us find us faithful!”
-
Ketekunan (12:14)
Ayat ini tidak mudah ditafsirkan, bahkan menjadi persoalan bagi banyak orang Kristen sepanjang masa. Dalam ayat ini, sekilas tampak bahwa keselamatan diperoleh karena hasil usaha kita. Jikalau kita berusaha hidup damai dan mengejar kekudusan, maka kita akan diselamatkan dan akan melihat Tuhan.