Dalam Ibrani 12:12-17, perikop yang kita baca ini, kita bisa menemukan 3K: Kontinuitas, Ketekunan, dan Kewaspadaan sebagai nasihat bagi kita bersama.
Mari kita simak satu demi satu:
-
Kontinuitas (12:12-13)
Di ayat ini tampaklah metafora tentang pertandingan: tangan dan lutut berperan penting dalam perlombaan lari. Penulis kitab Ibrani mendapatkan metafora ini dari Nabi Yesaya tatkala bangsa Israel diperhadapkan pada banyak raja yang jahat, nabi-nabi palsu, dan musuh-musuh yang gagah perkasa yang menggentarkan hati, ditambah pula dengan kaum sebangsanya yang keras kepala, tegar tengkuk, sehingga seolah-olah mereka sudah kehilangan prospek untuk hidup di tanah yang damai. Di saat kekecewaan melanda dan membuat orang nyaris menyerah, Yesaya berseru, “Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah, Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!’” (Yesaya 35:3-4). Saya yakin bahwa penekanan dalam Ibrani 12:12 sama dengan yang disebutkan Nabi Yesaya ini. Kepada kita dinasihatkan untuk menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah. Cara terbaik untuk tetap menjadi kuat adalah memberikan dorongan kepada orang lain dengan inisiatif sendiri. Prinsip ini saya temukan dalam Ibrani 10:25b, “Marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”