Khotbah Perjanjian Baru

Karakteristik Penatalayanan Tuhan

Jangan salah mengerti, saya tidak bermaksud untuk menafikan semua bentuk pemberian evaluasi di atas. Sebaliknya, betapa indah dan eloknya bila kita mengevaluasi secara konstruktif, bahkan dengan segala ketulusan hati untuk membangun diri sendiri atau orang lain. Sejujurnya, kita sering kali terjebak dengan pemikiran bahwa “saya tidak mau ambil pusing dengan evaluasi orang lain atas diri saya! Saya hanya mau Tuhanlah yang mengevaluasi pribadi dan pelayanan saya”. Padahal sesungguhnya evaluasi diri penting untuk setiap kita karena sebagai rohaniwan kita sangat sering berpatokan pada pemikiran: Just make the work done! Kesungguhan hati dalam komitmen dan dedikasi kita sudah bergeser dari kesungguhan yang mula-mula. Melalui terang firman Tuhan, marilah kita mengevaluasi diri. Sebagai penatalayan Tuhan, marilah kita simak bersama karakteristik seorang penatalayan sejati, sebagai butir acuan untuk evaluasi diri.

Identitas Penatalayan Tuhan (1 Korintus 4:1)

Kata “kami” dalam ayat 1 ini bisa kita kaitkan dengan ayat 3:22, yang mengindikasikan bahwa kata itu mengacu pada diri Paulus, Apolos dan Kefas. Kata “kami” itu juga bisa diperluas mencakup semua rekan kerja mereka. Dalam ungkapan “Demikianlah hendaknya orang memandang kami”, siapakah “orang” yang dimaksud di sini? Bagi saya, dalam konteks yang sempit, kata itu bisa mengacu pada orang Kristen. Namun dalam konteks yang luas, kata itu bisa mencakup semua orang bukan Kristen. Singkatnya, penatalayan Tuhan selalu siap dipandang dan dinilai orang. Sebagai orang percaya, kita adalah para lakon yang bermain di atas panggung sandiwara, yang ditonton oleh semua orang. Bila ingin berhasil memainkan peran kita dengan baik, langkah pertama yang patut kita lakukan adalah mengenal identitas kita masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *