Renungan

Mengapa Tawar Hati?

Mengapa Tawar Hati?

 

Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.

(Amsal 24:10)

 

Ada dua orang sedang berjualan di pasar. Minggu itu tidak banyak pengunjung yang membeli dagangan keduanya. Seorang penjual tampak letih, lesu, dan tak henti-hentinya mengeluh. Wajahnya tampak tegang, tak menyisakan keramahan. Sementara penjual satunya terus menyusun dagangannya sambil tersenyum. Tak jarang ia menyanyikan lagu-lagu dengan gembira.

 

Jika Anda harus membeli suatu barang, maka ke kios yang mana Anda akan mampir? Kios penjual pertama yang tampak letih, lesu, dan memasang wajah tegang, ataulah ke kios penjual kedua yang tampak ceria dan ramah? Saya rasa Anda akan memilih menghampiri kios penjual yang kedua, bukan?

 

“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu” (Amsal 24:10). Amsal ini mengajarkan kepada kita bahwa akan ada saatnya kita mengalami kesesakan akibat masalah-masalah kehidupan. Kita dapat merasakan kesesakan ketika muncul sakit penyakit, bisnis yang tidak berjalan lancar, atau ketika kemalangan terjadi. Ya, kita tidak dapat memilih apa yang akan terjadi dengan kehidupan ini. Namun, kita selalu dapat memilih respons atau sikap kita terhadap segala situasi kehidupan. Kita dapat menghadapi kesesakan hidup dengan pilihan sikap yang terbaik.

 

Menjadi tawar hati atau kehilangan semangat dalam kesesakan memperkecil kekuatan kita. Sebaliknya, menghadapi kesesakan dengan semangat juang yang tinggi akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *