Renungan Berjalan bersama Tuhan

Amarah yang Meledak-ledak

Amarah yang Meledak-ledak

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak” (Amsal 20:3)

Pada umumnya, ketika bergaul dengan masyarakat yang bebas berpendapat. kita sering menjumpai bahwa siapa yang berani, ia pasti banyak bicara. Bukan saja banyak bicara, tetapi juga berani memberikan kritik secara terbuka, bahkan tanpa malu-malu menelanjangi kejelekan-kejelekan orang lain. Orang yang suka berbicara akan menjadi orang yang dominan, apalagi jika tergolong orang yang suka menantang, bicara dengan keras, penuh dengan keyakinan. Orang yang demikian akan mudah menjadi pemimpin, jika dibandingkan dengan orang yang pendiam, tidak suka bicara, apalagi memberikan respons ketika berdiskusi. Sikap atau karakter orang yang suka bicara bukanlah sesuatu yang tidak baik! Orang yang berani berbicara dengan siapa pun dan penuh keyakinan adalah orang-orang yang memang baik untuk diandalkan menjadi seorang pemimpin. Namun sebaliknya, jika keberanian berbicara itu hanya dipakai untuk menjadikan diri dominan, ingin menguasai siapa saja, tidak mau mengalah, dan terus merasa bahwa dirinya yang paling benar, jelas sikap yang demikian tidak baik bagi seorang pemimpin. Sikap ini tidak mendatangkan berkat bagi orang lain, tetapi sebaliknya, dapat menyakiti dan melukai suatu relasi.

Amsal mengatakan “terhormatlah” seseorang jika ia menjauhi perbantahan. Jika ada perbantahan, itu berarti ada lebih dari satu orang yang saling berbicara untuk terus beradu argumentasi dan tidak mau saling mengalah. Setiap orang merasa dirinya paling benar dari yang lain. Bukan itu saja, dalam adu argumentasi, emosi meninggi. Itulah yang disebut sebagai perbantahan. Terjemahan lain memakai kata “pertengkaran”.  Amsal mengatakan, “Orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” Dapat dipastikan bahwa orang yang marah pasti memiliki kemarahan yang meledak-ledak. Jika itu terjadi, ia adalah orang yang bodoh dan bukan orang yang terhormat.

Bagaimana sikap orang yang terhormat menurut Amsal? Ia adalah orang yang menjauhi perbantahan. Dengan kata lain, ia berani bersikap benar ketika ada perbedaan pendapat. Hal-hal yang berbeda tidak harus diselesaikan dengan perbantahan, apalagi dengan pertengkaran. Sikap itulah yang menghasilkan relasi terhormat. Kata “terhormat” dalam terjemahan lain disebut dengan “terpuji”. Orang yang dihargai oleh orang lain karena sikapnya yang baik tidak menimbulkan perbantahan yang menyakitkan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, terima kasih karena firman-Mu terus mengingatkan bagaimana aku seharusnya hadir di tengah masyarakat, pekerjaan, dan pelayanan. Bagaimana aku harus berbicara dan berpendapat ketika menghadapi perdebatan, bahkan dengan orang yang tidak mau mengalah. Tuhan, mampukan aku untuk mengontrol emosiku sehingga aku tidak terpancing untuk marah.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai gereja untuk terus memperlengkapi segenap anggota jemaat supaya belajar tenang dalam menghadapi orang-orang yang mudah memancing percakapan yang emosional. Pimpinlah kami ketika sering mengadakan rapat, di mana banyak perbedaan pendapat dan tidak menutup kemungkinan terjadi perdebatan yang sengit. Ampunilah kami ketika kami tidak mengunakan bahasa kasih untuk saling memahami dan menghormati. Pimpinlah kami Tuhan ketika ada rapat komisi, Majelis Jemaat, Persidangan Klasis, dan Sinode.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *